Saat kutahu bahwa kau tak ada disini lagi
Saat itulah aku merasa seluruh ragaku meregang
Takkan sanggup aku untuk tanpamu
Takkan sanggup jiwa ini tak tersentuh rengkuhanmu
Aku sungguh heran dengan pelangi
Kenapa dia rela menunggu terang untuk menampakkan warna-warninya
Bagaimana jika terang tidak muncul?
Bagaimana jika mendung terus menggelantung?
Akankah pelangi takkan muncul?
Akankah pelangi takkan menampakkan kilau indah warna-warninya?
Akankah pelangi berhenti mencerahkan seluruh kebahagiaan?
Pernah suatu ketika aku berpapasan dengan pelangi
Dia duduk termangu sendiri
Tanpa teman satupun
Aku memberanikan diri bertanya
"Apa yang terjadi pada dirimu wahai pelangi?"
Mata pelangi menyiratkan sebuah kesedihan yang teramat
Sebuah kesuraman yang mencekat
"Aku sedang bersedih wahai anak muda. Aku sungguh ingin menghadirkan kilau indahku dimana-dimana. Tapi mereka mengingkari indahku. Mereka tidak percaya bahwa aku selalu ada di penghujung terang mereka. Mereka tidak percaya bahwa aku selalu setia membayangi mendung. Mereka tidak percaya bahwa aku selalu siap menggantikan hujan. Meski bukan di bumi namun, di hati mereka aku selalu ada. Tapi mereka tidak pernah percaya."
Aku tersentak
Raga ini ringan kemudian
Melayang tinggi...jauh...jauh...
Dan sampailah aku pada tempat dimana aku ingin berada
Lengkungan pelangi, tempat keceriaan berasal
Tempat aku dapat mengukir semua warna indah hidupku
Tempat aku meramu sukacita menjadi sejuta kebahagiaan
Dan setiap hari, setiap detik
Yang kudengar hanya senandung pelangi nan merdu
Yang jauh merasuk kalbu...
Menyadarkanku bahwa kamu memang pantas ditunggu
Seperti pelangi yang merindu hadirnya terang
Seperti pelangi yang setia menunggu di ujung hujan
Akupun akan tetap menunggumu
Menunggumu untuk mencerahkan hatiku
Seperti pelangi yang mencerahkan bumi ini
Senin, 13 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar