Senin, 13 Desember 2010

Selamat Tinggal

Wahai lelaki, dengarkanlah aku. Dengarkanlah walau sejenak. Wahai lelaki, aku hanya seorang wanita biasa. Wanita yang takkan mampu menerjangmu dengan fisikku yang lemah ini. Akupun tentu tak dapat menyerangmu dengan kata-kata, karena suaraku akan terbenam oleh suaramu. Karena itu, dengarkanlah aku, dengarkanlah aku untuk terakhir kalinya.

Aku bukanlah wanita yang terbaik untukmu. Dan kamu bukanlah lelaki terbaik untukku. Janganlah kau jadikan diriku ini sebagai kelinci percobaanmu, yang kalau berhasil akan kamu sayang, tapi kalau gagal akan kamu buang. Aku bukanlah kelinci yang tidak akan pernah protes kamu percobakan. Aku ini manusia, yang punya perasaan, juga punya logika. Tolong kamu pertimbangkan baik-baik.

Curhatan Benci

Ya ampun manusia ini. Mengapa sih kamu selalu memunculkanku. Apa aku ada gunanya untukmu. Aku ini adalah penyakit terjahat dari sudut kelam hatimu. Untuk apa kamu memunculkanku ke permukaan? Ahh, manusia, tempatku bukan disini. Seharusnya aku tetap terkubur dalam di sudut kelam hatimu. Tahukan kamu, aku dapat memanipulasi pikiranmu sehingga kamu bahkan tidak mampu mengontrol dirimu. Aku dapat membuat matamu menjadi gelap. Membuat pikiranmu menjadi tertutup. Ketika kamu memunculkan aku, itu berarti kamu harus siap menghancurkan dirimu sendiri. Perlahan namun pasti.

Aku tidak suka berada di permukaan hatimu kini. Aku tidak suka harus berebut tempat dengan cinta, kasih dan sayang. Aku lebih suka menjadi perasaan yang tersimpan jauh di sudut terdalam hatimu dimana luka itu kau simpan. Tolonglah, aku tak sanggup kalau harus berdesakan dengan rasa-rasa terbaikmu yang selalu memandang sinis ke arahku. Tolong kembalikan aku, wahai manusia. Kembalikan aku sebelum aku merusakmu jauh lebih dalam! Karena rasa BENCI sepertiku tidak pantas berada di tempat indah ini.

Aku dan Kamu

Kamu :

Saat berbisik pada gelap
Kaulah cahaya yang terang itu
Saat berharap pada angin
Kaulah hujan yang dingin itu
Bila terangmu adalah siang
Ku tak mau malam datang memisahkan kita
Bila dinginmu adalah embun
Ku tak mau mentari membawamu pergi
Karena kuingin kau tetap disini
Hingga mataku tertutup selamanya

Membunuh Rindu

Dalam derap deretan huruf bermakna itu
Aku menasbihkan diriku
Menyerahkan seluruhnya ke dalam deretan huruf yang terus membisu
Melafalkan seruan yang tak henti
Bagai diberondong seribu butir peluru
Rinduku tak tembus
Tetap kuat meraja
Merongrong dinding hati


Saat Aku mencintai Sepi :)

Kusadari sekarang aku sedang sendiri
Mensesapi sepi dalam kediamannya
Kusadari bahwa aku tak lengkap lagi
Mencoba untuk meraih sari-sari manis kebahagiaan
Mencoba untuk menjadi sama
Ahh, tak mungkin
Aku telah berbeda

Merindu Malam

Sesaat hati ini merindumu. Membuat setitik pilu yang semakin merasuk kalbu. Benarkah yang kurasa rindu? Ataukah hanya sebuah semu. Aih, terlalu bodoh aku untuk mengetahuinya. Pernahkah kau menatap bintang di sudut hatiku?
Bintang yang begitu terang memaparkan setiap detil rindu. Jauh memang. Dan mungkin takkan sanggup terlihat dengan mata kepalamu. Tapi tahukah kau di setiap sisinya terbit sebuah kepiluan? Suara jerit tersayat yang selalu terdengar itu, pernahkah kau mendengarnya? Setiap malam aku mendengarnya. Membuatku sesak dan tak bisa tidur. Rongga dada ini hanya bisa bergemuruh. Tak mampu kubuka semua pintu untuk mendera mereka keluar. Rindu ini memang menyiksa. Namun, entah mengapa aku justru mencintai rasa rindu ini. Bahkan, aku selalu merindu malam dan mengharap rindu yang menyiksa itu untuk selalu hadir di tengah malam-malamku.

Senandung Pelangi

Saat kutahu bahwa kau tak ada disini lagi
Saat itulah aku merasa seluruh ragaku meregang
Takkan sanggup aku untuk tanpamu
Takkan sanggup jiwa ini tak tersentuh rengkuhanmu

Aku sungguh heran dengan pelangi
Kenapa dia rela menunggu terang untuk menampakkan warna-warninya
Bagaimana jika terang tidak muncul?
Bagaimana jika mendung terus menggelantung?
Akankah pelangi takkan muncul?
Akankah pelangi takkan menampakkan kilau indah warna-warninya?
Akankah pelangi berhenti mencerahkan seluruh kebahagiaan?


Seringai Kegelapan

Seringai-seringai keburukan satu persatu mulai menghantui gelap malamku. Tidak satupun cercah terang dapat menghalaunya. Seluruh seringai yang berkolaborasi dengan gelap terus meracau ke dalam terangku. Menyempurnakan rupanya. Menyedot kebahagiaan terang dan mengacaunya dalam raga. Memakan raga hingga tak tersisa. Aku merapuh. Mataku meredup. Ragaku kehilangan rasanya. Sakitnya menumpuk seperti jerami. Mengusut tak dapat teruntai. Ingin ku mengemas luka dengan sebuah bingkai terkunci. Namun aku tak bisa. Gelap membuat semua terlepas dan menggoresku kembali. Tentunya dengan torehan luka yang jauh lebih dalam. Dan lebih menyakitkan. Sampai-sampai aku tak dapat menahan jeritan kemalangan ini. Jeritan penawar luka. Penagih cinta.

Hening

Jeruji ketidakpercayaan semakin mengkungkungku dalam setiap belai angin lembutnya
Perlahan namun pasti
Dia mulai merenggut satu persatu dari setiap jengkal cinta yang kumiliki
Aku bahkan belum pernah mengeja cinta hingga selesai
Jeruji itu mengurungku hingga aku tak dapat lagi mensesapi candu dunia ini
Aku terisolir dari terbukanya dunia
Aku terkurung dalam gelapnya keegoisan manusia
Raga ini semakin membeku di tengah dunia yang menghangat
Tak sanggup lagi mengisyaratkan lemah
Semua hilang terhirup dan terabaikan

Kebahagiaan Yang Hilang

Pagi ini sepi
Dingin menusuk ke relung sendi terdalamku
Dapat kudengar bunyi gemeretaknya
Sendiku bergesekan untuk mencipta hangat
Setiap desirnya mengilukan seluruh raga
Membuatnya lemas tak bertulang

Kemudian semakin lemas
Hingga akhirnya tak berdaya
Seolah aku telah kehilangan jiwaku
Jiwa yang terbang entah kemana
Secepat kilat dan tak terlihat

Setiap Detik

Andai kau tahu setiap detikku hanya untukmu. Hanya untuk memilah hatimu. Hanya untuk mengeja setiap hela napasmu. Hanya untuk menilik makna dari setiap untaian gerakmu. Hanya untuk memberi isyarat tentang sebuah kavling hatiku yang telah kuserahkan untukmu. Hanya untuk mengakui bahwa setiap jengkal hati ini tercipta hanya untukmu, sayang.

Andai kau tahu bahwa aku hampir tidak pernah menuntut apapun darimu. Aku tidak pernah menuntut ragamu. Aku tidak pernah menuntut hartamu. Aku tidak pernah menuntut hidupmu. Aku tidak pernah menuntut setiap perilakumu. Aku bahkan sedikit pun tidak pernah menuntut untuk memiliki jiwamu.

Kita Tidak Berbeda

Selama ini aku selalu diam. Melihat semua tingkahmu, aku hanya bisa mengelus dada. Melihat semua perlakuanmu ke aku, aku hanya bisa menghela napas. Kita itu bukan berbeda. Makanya kedua kutub kita saling tolak-menolak dan menjauh. Kita itu bukan berbeda. Makanya akan menghasilkan gaya aksi-reaksi yang seimbang bila bertemu. Kita itu sama. Sama-sama keras. Sama-sama egois. Kamu tahu apa akibatnya jika yang sama itu bertemu? Kita analogikan saja dengan batu. Batu ketemu dengan batu, jadinya pasti hancur bukan? Begitu pula dengan kita. Bila kita sama-sama keras pasti akan hancur semuanya. Tapi, maaf. Aku gak bisa mengalah kali ini. Sudah cukup kau kuras sabarku. Sabarku telah sampai pada batasnya. Sampai pada batas dimana aku tak bisa menahan luapan emosi ini. Sabarku telah tertutup oleh serpihan pecah dari hatiku yang telah kau sakiti. Cukup sudah. I quit!!!

Pacar Lima Hariku

Semuanya terasa hampa begitu aku campakkan telepon di sudut kamarku. Pertanda bahwa cinta ini juga harus terlepas. Terhapus dari sisi hati yang kelam ini. Kamu. Ya, kamu. Sosok yang selama ini ku cinta. Ternyata dengan mudahnya kamu menghapus semua kenangan ini. Hanya karena masalah kecil. Aku tau ini susah. Aku selalu berusaha mengerti kamu. Tapi... Sudahlah. Semuanya mungkin memang sia-sia saja. Aku mungkin harus melupakanmu. Sebelum hati ini tergerus rindu yang begitu menyiksa.


***

jadi kita nonton hari ini?
###
sender : Bumi
Aku coba menghapus setiap bulir kaca yang mengintai di pucuk mataku. Aku sadar aku harus menatap hidup baru di depanku. Masih banyak hal yang harus kulakukan.

iya. Jadilah. Kamu jemput aku ya?
###
sending...
message sent!